HOME Forum Pendanaan Life E-Discussion

3 balasan, 2 voices Last updated by  Eko Widodo 4 bulan, 2 minggu yang lalu
  • Penulis
    Tulisan-tulisan
  • #140710

    Eko Widodo
    Peserta
    @Eko_Widodo

    Assalamu’alaikum wrwb…

    Selamat pagi Bapak/Ibu,

    Memulai Life e-Discussion pagi ini terkait topik di atas, berikut kami tambahkan beberapa informasi untuk menambah pemahaman terhadap topik kita hari ini sebagai berikut:

    1. Topik “Analisis Kebutuhan Infrastruktur dan Pendanaan” merupakan topik yang berkaitan dengan Advokasi lanjutan untuk mendapatkan komitmen Kepala Daerah untuk mengkonsolidasikan berbagai pendanaan dari berbagai sumber dalam rangka menutup gap pencapaian Akses Universal , khususnya komitmen pendanaan APBD. Komitmen untuk mengkonsolidasikan semua potensi sumber-sumber pendanaan menjadi sangat penting, karena gap pencapaian Akses Universal tidak mungkin hanya ditutup dengan APBD.

    2. Hasil dari “Analisis Kebutuhan Infrastruktur dan Pendanaan” akan memberikan rekomendasi yang akan disampaikan Pokja kepada Kepala Daerah yang meliputi hal-hal sebagai berikut:

    • Gap jumlah penduduk (yang selanjutnya bisa dikonversi ke dalam KK/rumah tangga) yang belum memiliki akses sanitasi (BABS) dan gap jumlah penduduk yang belum memiliki akses sanitasi layak terhadap target UA di kab/kota masing-masing. Selanjutnya akan menghasilkan rekomendasi jumlah sarana prasarana untuk menutup gap dalam mencapai target UA 2019 (jumlah tangki septik individual, IPAL Kawasan, tangki septik komunal, dan sarana prasarana lainnya sesuai pilihan teknologinya).
    • Gap layanan pengurasan tangki septik dan diangkut/diolah ke IPLT terhadap target layanan seluruh wilayah kab/kota. Selanjutnya akan menghasilkan rekomendasi kebutuhan sarana prasarana pengangkutan (motor ataupun truck sedot tinja) dan kebutuhan sarana prasarana pengolahan lumpur tinja (IPLT).
    • Berdasarkan jumlah kebutuhan sarana prasarana akses sanitasi (sesuai pilihan teknologinya), dan sarana prasarana layanan sanitasi (truk/motor sedot tinja, IPLT), selanjutnya menghasilkan usulan rekomendasi konsolidasi pendanaan untuk mendanai kebutuhan sarana prasarana tersebut, yang akan memberi gambaran besaran kebutuhan pendanaan dan plot usulan sumber pendanaannya yang memiliki peluang besar bisa diakses oleh kab/kota.

    3. Pengalaman Kabupaten Muaraenim bisa menjadi contoh yang sangat menarik untuk dikaji dan direplikasi, karena berdasarkan hasil konsolidasi sumber-sumber pendanaan di Muaraenim, variasi sumber pendanaannya sangat beragam (APBD, Hibah Air Limbah Setempat, APBN, Dana Desa/Alokasi Dana Desa, CSR, ZISWAF) termasuk mulai merintis pendanaan dari Mikrokredit melalui BPR atau Bank-bank lokal.

    Demikian sebagai informasi tambahan, mudah-mudahan bisa memancing rasa ingin tahu Bapak/Ibu, khususnya kab/kota Pilot 2018 untuk menggali lebih jauh pengalaman dari Kab. Muaraenim dalam konsolidasi pendanaan dalam menutup kebutuhan guna pencapaian UA 2019.

    Terima kasih,

    Salam,

    Eko Widodo

    Technical Specialist USDP

     

  • #139585

    Niswaryadi Sidiq
    Peserta
    @Niswaryadi.Sidiq

    Assalamu alaikum wr. wb.

    Selamat Siang Bapak/Ibu

    Instrumen analisis kebutuhan infrastruktur dan pendanaan yang digunakan sangat membantu, hanya perlu disesuaikan hasilnya dengan Instrumen SSK yang digunakan sebelumnya.

    Dalam instrumen OM IPLT dan Truk Tinja menggunakan pendekatan 10% dari biaya pembangunan IPLT dan truk tinja. sedangkan tersedia analisa sendiri biaya Operasional dan Pemeliharaan yang dapat digunakan. apakah hasil analisa biaya OP tersebut sesuai bila digunakan pendekatan 10%?

    Terima Kasih

    Salam Sanitasi

     

    • #139612

      Eko Widodo
      Peserta
      @Eko_Widodo

      Wa’alaikum salam wrwb…

      Terima kasih responnya Pak Iwa,

      Penggunaan Instrumen perlu disesuaikan dengan hasil Instrumen SSK sebelumnya, saya sepakat. Instrumen ini sebenarnya hanya untuk tujuan kepraktisan saja, mengingat Instrumen SSK sebelumnya berlaku sangat umum, dimana pilihan teknologi dalam satu zona sistem harus sama. Sedangkan Instrumen ini mengakomodasi perbedaan pilihan teknologi yang realistis akan diterapkan di kab/kota.

      Asumsi 10% biaya OM sebenarnya hanya estimasi yang mengacu pada Pedoman Pemutakhiran/ Penyusunan SSK. Tujuannya untuk mengetahui estimasi kebutuhan biaya secara keseluruhan (Pra-konstruksi, Konstruksi dan OM). Asumsi ini dibuat ketika Instrumen Perhitungan Biaya OM belum dibuat.

      Sedangkan penggunaan Instrumen Perhitungan Biaya OM PT-8 ditujukan untuk perhitungan presisi, karena akan digunakan untuk menghitung kebutuhan skenario Cost Recovary layanan sanitasi, termasuk perhitungan tarif maupun retribusi.

      Untuk Biaya OM yang lebih presisi bisa digantikan dengan Intrumen Perhitungan Biaya OM (PT-8).

      Tetapi jika belum sempat dihitung sesuai PT-8, dan hanya ditujukan untuk keperluan advokasi anggaran, bisa digunakan asumsi 10%.

      Pilihannya fleksibel saja sesuai kesiapan kab/kota. Idealnya tentu kalau bisa dihitung dengan Intrumen pada PT-8.

      Terima kasih

      Salam Sanitasi

  • #139833

    Eko Widodo
    Peserta
    @Eko_Widodo

    Bapak/Ibu yth,

    Sebelumnya mohon maaf, kesempatan saya mendampingi Bapak/Ibu dalam Life e-Discussion ini hanya bisa sampai jam 13.00 WIB siang ini. Karena ada urusan lain yang tidak bisa saya tinggalkan.

    Adapun sekiranya ada tanggapan, pertanyaan dan komentar dari Bapak/Ibu terkait topik ini, silahkan ditulis saja dalam Forum ini.

    Insya Alloh akan saya tanggapi atau jawab di kesempatan yang lain.

    Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanannya.

    Salam SanTun…

    SANITASI TUNTAS 2019

Anda harus log masuk untuk membalas topik ini.