HOME Forum Advokasi dan Komunikasi Tentang Advokasi, Promosi dan Pemasaran

1 balasan, 2 voices Last updated by  Richard Thobias Daniesl 3 bulan, 2 minggu yang lalu
  • Penulis
    Tulisan-tulisan
  • #140696

    Hony Irawan
    Peserta
    @Hony_Irawan

    Selamat pagi rekan-rekan yang hadir di e-disscussion hari ini….

    Untuk dapat memberikan gambaran tentang bagaimana 1. menyusun materi advokasi untuk kepala daerah, 2. menetapkan saluran komunikasi yang paling efektif melalui analisis jaringan komunikasi dan 3. Penyiapan Materi Promosi dan Pemasaran kepada Masyarakat. Kami menyiapkan diri jika ada pertanyaan terkait dengan hal tersebut.

    Namun ada beberapa hal yang kerap kali terjadi di lapangan diantaranya:

    1. Data tidak memadai sesuai kebutuhan minimal materi advokasi sesua dengan petunjuk: Untuk mengatasi hal ini biasanya kita lakukan rapat pelaksana Pokja untuk membahas Draf Materi Tersebut sekaligus melengkapi kekurangan data dan atau analisis data yang diperlukan. Konsultasikan beberapa Tools analisis yang telah disiapkan oleh Tim Teknis terutama untuk memperlihatkan 1. “Keberfungsian Sarana Prasana Air Limbah dan Sampah”,  2. “Ilustrasi Kesepakatan Menutup Gap” untuk layanan air limbah juga tersedia, sedangkan kesepakatan menutup gap persampahan dilihat dari gap antara kebutuhan dan ketersediaan sarana prasarana yang ada.

    2. Untuk “Analisis Jaringan Komunikasi” tujuannya adalah menjembatani sumber informasi OPD teknis pelaksana air limbah dengan saluran komunikasi yang paling efektif dapat diterima oleh kepala daerah. Dalam berbagai kesempatan, saluran formal dimana Sekda Selaku ketua Pokja diharapkan menjadi saluran yang efektif untuk dapat diterima oleh kepala daerah, namun lebih sering kepala Bappeda lebih menguasai permasalahan dan dapat menjadi penyampai pesan selain OPD yang menangani Persampahan dan atau air limbah.

    Dalam pertemuan dengan kepala daerah perlu disiapkan materi berupa PPT dan hands out yang dijilid seperti booklet ukuran A5 dengan sampul yang baik. Biasanya kepala daerah akan merasa tertarik dengan fakta-fakta yang diungkap tentang kondisi eksisting, analisis keberfungsian, ilustrasi menutup gap, rekomendasi dan paket kebijakan.

    Permasalahan umum yang sering terjadi dalam penyusunan paket kebijakan adalah terlalu umum, misal “menuntaskan BABs” atau “Pengurangan Sampah Hingga 20%”, hendaknya dibuat menjadi lebih spesifik bukan dalam bahasa TARGET  namun menjadi “BAGAIMANA CARANYA”. Misalnya untuk target menuntaskan BABS, paket kebijakannya adalah “Hibah Tangki Septik untuk 3.400 KK Miskin”, “Sedot Tinja Berhadiah Umroh”, “Kredit Tanpa Bunga untuk Jamban dan Tangki Septik”, “Satu Kecamatan Satu Bumdes Usaha Sedot Tinja” dll sesuai dengan inovasi dan kesanggupan Kabupaten Kota Bersangkutan. Begitu juga untuk mencapai target “Pengurangan Sampah 20%” maka Paket Kebijakan yang ditawarkan adalah “Satu kelurahan/desa satu Bank Sampah Unit”, “Satu Kecamatan, Satu Bank Kompos”, “Satu RT satu Usaha Pengumpulan Sampah”, dll.

    3. Untuk Advokasi, Promosi dan Pemasaran kepada masyarakat, akan jauh lebih mudah jika paket kebijakan jelas MEMBERI KEMUDAHAN KEPADA MASYARAKAT, Misalnya sedot tinja gratis bagi yang mendaftar AMNESTI TANGKI SEPTIK BOCOR pada periode terterntu misalnya. Saluran komunikasi juga sebetulnya juga sudah tersedia, 1. Untuk komunikasi tatap muka dapat disampaikan oleh para kader kesehatan maupun PKK atau pada kegiatan pemicuan STBM oleh Dinas Kesehatan. 2. Kerjasama dengan media lokal seperti surat kabar, radi dan televisi dapat memanfaatkan hubungan yang baik dari Diskominfo, Humas maupu Promkes Dinkes.

    Peluncuran Paket Kebijakan sebagai langkah awal untuk mengkomunikasi kebijakan penuntasan akses air limbah dan sampah perlu dikemas selain untuk memperkuat komitmen kepala daerah juga berdampak untuk keterlibatan masyarakat.

    Semoga ini dapat jadi gambaran tentang permasalahan klasik seputar 3 topik ini dan menjadi inspirasi bagi kawan-kawan untuk melakukannya.

    Saya menunggu kabar selanjutnya…

    Salam,

     

    Hony

     

  • #139442

    Richard Thobias Daniesl
    Peserta
    @Richard_Thobias_D

    Selamat pagi rekan-rekan yang hadir di e-disscussion hari ini….

    Sedikit tambahan terkait promosi dan pemasaran sanitasi bagi masyarakat;

    1. Perubahan sikap dan perilaku membutuhkan proses yang panjang. Selain perlu menggunakan saluran multi media dan berkesinambungan
    2. Tatap muka dan interaksi langsung biasanya lebih efektif seperti Pemicuan (STBM) dan sosialisasi dalam bentuk pelatihan singkat yang mengarah lansung kepada praktek-praktek  terkait hal-hal praktis bisa menjadi evidence sebelum membicarakan hal-hal strategis.
    3. Dengan demikian PFI dan Pokja juga perlu SIAP dengan hal-hal praktis yang mengarah kepada perubahan perilaku seperti; pelatihan pemilahan sampah dan komposting sederhana, pelatihan terkait tangki septik aman sesuai SNI, Pengenalan dan pengelolaan Bank Sampah dll.

    Terimakasih dan salam,

    Richard TD

     

Anda harus log masuk untuk membalas topik ini.